Peristiwa Berdarah di Indonesia Pada Jaman Soeharto

Peristiwa Berdarah di Indonesia Pada Jaman Soeharto

Perjalanan Indonesia menuju seperti sekarang dibilang tidak mudah. Sudah sangat banyak yang dilalui Indonesia untuk mencapai kedamaian seperti sekarang ini. Dimulai saat lepasnya para penjajah pada tahun 1945 yang kemudian membawa kebahagiaan pada rakyat Indonesia. Namun  kekelaman kembali melanda saat presiden Soekarno lengser dan digantikan oleh Presiden kedua kita yaitu Soeharto. Bisa dibilang, masa – masa paling kelam Indonesia setelah merdeka adalah saat Bapak Soeharto memimpin Indonesia saat 1976 sampai 1998.

Tidak bisa dipungkiri bahwa masa – masa tersebut juga adalah masa – masa paling enak bagi Indonesia. Negara menjadi serba murah, aman, tentram dan  juga sangat kondusif. Namun itu semua berubah saat keburukan Soeharto terlihat. Peristiwa – peristiwa tersebut pasti bersangkutan dengan kemanusiaan dan juga pertumpahan darah. Puncakny adalah pada tahun 1998 yang dikenal sebagai peristiwa paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia.  Sampai sekarang peristiwa “98” masih membekas di benak orang – orang.

Berikut adalah Peristiwa Berdarah di Indonesia Pada Jaman Soeharto.

1. Kerusuhan 1998

Kerusuhan 1998

Siapa orang Indonesia yang tidak mengetahui salah satu demo paling berdarah dan terbesar di Indonesia ini? Peristiwa ini adalah salah satu tragadi yang paling mengerikan pada masa pemerintahan presiden kedua kita. Bahkan demo  ini sampai mempengaruhi kinerja pemerintahan pusat. Peristiwa ini diduga terjadi karena adanya ketidakpuasan rakyat atas ekonomi yang memudar karena krisis. Soeharto yang dianggap sebagai dalangnya dipaksa lepas jabatan oleh para massa yang mayoritas adalah mahasiswa. Peristiwa ini menjadi demo paling “Luar Biasa” yang pernah terjadi di Indonesia.

Korban yang berjatuhan sudah tidak terhitung lagi. 4 orang yang dikenal sebagai penggerak massa tewas disertai dengan teman – temannya yang terluka. Anarkisme dan Vandalisme terjadi dipenjuru kota. Kerusuhan ini juga membuat para warga keturunan Tionghoa menjadi korban. Para perempuan – perempuan keturunan Tionghoa diperkosa lalu dibunuh secara brutal, pemilik toko – toko yang berketurunan Tiongkok akan dijarah dan dihancurkan tanpa sisa. Akhir dari kerusuhan ini adalah saat Soeharto resmi menyatakan mengundurkan diri menjadi presiden.

2. Peristiwa Ninja Berdarah

peristiwa ninja berdarah

Terjadi di Jawa Timur pada tahi+un 1998 ini membuat Jawa Timur menjadi kelam dan berdarah. Peristiwa pembantaian pernah terjadi di Jawa Timur dengan sebutan Ninja Berdarah. Ciri – ciri modus pelaku adalah menaruh simbol silang pada rumah – rumah. Rumah yang sudah terdapat tanda silang pada pintunya dipastikan salah satu penghuninya akan tewas. Dukun santet di Bayuwangi adalah akar dari kejadian ninja berdarah ini. Para ninja akan menarget orang – orang yang taat beragama seperti ustad dan Kyai. Mereka juga akan membunuh orang – orang yang merupakan tokoh berpengaruh bagi masyarakat setempat.

Awalnya, para masyarakat ketakutan dengan sosok ninja berdarah ini namun, mereka melawan dan mulai memburu para oknum – oknum yang diduga adalah seorang ninja berdarah. Tragedi ini anehnya mulai meredup dan akhirnya hilang seiring dengan peristiwa 98 yang tidak terdengar lagi. Para masyarakat percaya bahwa kejadian berdarah ini adalah salah satu pengalihan isu dari tragedi besar – besaran pada tahun 1998.

3. Peristiwa Tanjung Priok

peristiwa tanjung priok

Tanjung Priok pernah menjadi saksi bisu salah satu tragedi kekejaman pada masa Orde Baru. Tragedi yang terjadi pada 12 September 1984 ini menjadi salah satu tragedi paling beradarah yang pernah terjadi di Indonesia. Kerushan ini mengakibatkan jatuhnya korban tewas dan juga luka – luka. Gedung – gedung menjadi korban dan harus rusak terbakar akibat kebrutalan massa. Kejadian terjadi saar para massa sedang demo dan akhirnya bentrok dengan aparat. Para aparat yang berada disini bertindak sangat tidak manusiawi. Mereka tidak segan menembak para masa yang sedang unjuk rasa.

Akibat tindakan aparat yang sangat brutal, dikabarkan terdapat 9 orang tewas terbakar dan 24 orang tewas akibat kebrutalan para aparat. Kejadian yang berlamgsung pada 1984 ini menjadikan salah satu kejadian yang termasuk dalam pelanggaran HAM berat. Kasus in sampai sekarang belum ada kelanjutannya walau sudah banyak orang yang merupakan keluarga korban mengajukan keberatan kepada pihak berwajib. Peristiwa ini masih membekas dalam kenangan para warga Tanjung Priok sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *