Mitos Orang Tionghoa

Mitos Orang Tionghoa

Indonesia dipenuhi dengan berbagai ras dan suku dari bermacam – macam asal. Mulai dari suku dan ras asli indonesia sampai dengam suku dan ras pendatang seperti suku Tionghoa. Asal – usul ras Tionghoa sudah ada sejak nenek moyangnya yang berimigrasi ke Indonesia pada ribuan tahun lalu. Mereka sudah ada sejak jaman kerajaan Indonesia masih berjaya. Mereka datang ke Indonesia Mayoritas sebagai pedagang – pedagang yang kemudian memilih menetap di Indonesia. Kemudian mereka menjalin hubungan dengan para orang pribumi dan menghasilkan keturunan Tionghoa di Indonesia.

Keturunan Tionghoa di Indonesia ternyata berkembang lebih pesat dari perkiraan. Rata – rata mereka sudah ada di kota – kota besar di Indonesia. Mereka sudah membaur dengan orang – orang asli di Indonesia dan saling melengkapi satu sama lain. Walaupun mereka sempat merasakan diskriminasi tapi mereka tetap bertahan di Indonesia. Budaya mereka pun dengan cepat menyebar dan ber akulturasi dengan budaya asli sejak presiden Gusdur memperjuangkan mereka. Budaya mereka pun dengan cepat diserap dan muncul beberapa mitos – mitos.

Berikut adalah Mitos Orang Tionghoa

1. Wajib Makan Mie Saat Ulang Tahun.

Wajib Makan Mie Saat Ulang Tahun

Sudah menjadi rahasia umum bila masyarakat Tionghoa memakan mie saat mereka merayakan ulang tahun. Bukan tanpa alasan, karena dengan kita menyantap mie, maka dipercaya dapat membuat kita menjadi panjang umut. Tekstur mie yang panjang melambangkan umur yang tidak akan pernah habis. Maka dari itu disetiap perayaan ulang tahun keturunan Tionghoa, kurang lengkap bila tidak ada hidangan mie. Mitos ini juga berubah menjadi kebiasaan saat ulang tahun.

2. Warna Merah Simbol Keberuntungan.

Warna Merah Simbol Keberuntungan

Jika anda menghadiri tempat wisata yang bertema Tionghoa atau mengunjungi rumah teman anda yang keturunan Tionghoa, tidak aneh jika anda melihat serba – serbi berwarna merah di sekitarnya. Menurut mereka, warna merah sudah menjadi sebuah warna wajib yang dikenakan saat Imlek karena warna merah kental dengan arti keberuntungan. Merek berkata bahwa  “Warna ini memiliki makna peruntungan yang baik, kesuksesan, serta kebahagiaan”. Maka dari itu jangan heran jika pernak – pernik para orang Tionghoa berwarna mayoritas merah.

3. Makan Onde Harus Sesuai Umur.

Makan Onde Harus Sesuai Umur

Pada tanggal 22 Desember, biasanya orang Tionghoa akan merayakan hari ibu. Untuk merayakan hari ibu, mereka akan membuat onde – onde sebagai makanan wajib saat merayakan hari ibu. Namun, terdapat mitos bahwa kita tidak boleh makan onde seperti yang kita mau. Menurut mereka, kita harus memakan onde sebanyak umur kita saat ini dan ditambah satu. Jika umur kita 17 maka kita harus memakan 18 onde. Menurut mereka ini akan membawa keberentungan dan panjang umur bagi mereka. Namun seiring berkembangnya jaman, tradisi ini sudah mulai memudar di masyarakat.

4. Tidak Boleh Memakai Baju Pengantin Jika Belum Menikah.

Tidak Boleh Memakai Baju Pengantin Jika Belum Menikah

Jika kalian yang belum memiliki pasangan, Ada sebuah larangan yang tidak memperbolehkan kalian yang jomblo memakai baju pengantin. Mereka percaya bahwa jika ada yang memakai baju pengantin dalam keadaan jomblo, maka mereka akan sulit menemukan pasangan hidup. Bagi kalian yang jomblo juga tidak boleh menjadi pengapit pernikahan lebih dari kali karena alasan yang sama yaitu berat jodoh. Pengapit sendiri berarti seseorang yang membantu salah satu pengantin dalam mempersiapkan pernikahan.

5. Angka 4 dan 8

Angka 4 dan 8

Terdapar sebuah mitos dimana angka 4 sangat dihindari bagi para keturunan Tionghoa. Mereka percaya angka 4 membawa kesialan karena pelafalannya dalam bahasa mandari berarti si yang mirip dengan kata “mati”. Mungkin anda pernah melihat mitos ini dalam sebuah mal atau apartemen atau apapun gedung tinggi. Di tombol liftnya mungkin anda tidak akan menemukan angka 4. Ya angka ini dianggap membawa kesialan dan kemungkinan pemiliknya adalah orang Tionghoa.

Namun, angka 8 dianggap sebagai angka yang memiliki keberuntungan. Menurut Filosofi mereka, angka 8 memiliki bentuk yang tidak berujung ( infinity ). Angka 8 juga ditulis seperti air mengalir yang tidak akan pernah berhenti. Angka 8 sering mincul dalam literatur atau kaligrafi yang berasal dari Tionghoa karena konon jika dipajang akan membawa hoki bagi pemiliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *