MENGUAK BEBERAPA FAKTA ATAU MITOS DI DESA TRUNYAN

MENGUAK BEBERAPA FAKTA ATAU MITOS DI DESA TRUNYAN

Salah satu pemakaman yang berada di lokasi Desa Trunyan, sisi timur Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali. Tidak banyak yang tau keunikan dari kuburan yang satu ini. Kuburan atau pemakaman biasanya tidak jauh dari kata mistis atau misteri, konon katanya tempat ini memiliki kisah mistis dan di selimuti berbagai misteri bagi anda yang mengunjunginya akan menyaksikan pemandangan yang tidak biasa seperti pemakaman lainya.

Bagi para pengunjung yang datang ke tempat ini akan di perlihatkan pemandangan yang mengerikan seperti banyak tengkorak atau tulang belulang manusia yang tergeletak dimana saja, adapun mayat yang tergeletak begitu saja di sekitarnya. Tempat inilah yang menjadi salah satu kuburan paling unik yang ada di Indonesia tepatnya di Desa Trunyan, Kabupaten Bangli, Bali. Saya akan menceritakan sedikit menguak fakta Desa Trunyan dan kenapa pemakaman ini bisa ada sampai sekarang.

ASAL MULA DESA TRUNYAN

Konon ceritanya sejak dahulu tumbuh pohon Taru Menyan atau pohon Kayu Wangi yang berusia sebelas abad dan tumbuh membaik sampai saat ini, dan mitosnya wangi pohon Taru Menyan bisa tercium hingga sampai ke pulau Jawa bagian tengah. Itulah kenapa pemakaman unik ini bisa ada, itu karena bau mayat akan terserap oleh si pohon itu dan tidak akan tercium bau busuk sekalipun mayat itu sudah lama.

Konon ada empat bersaudara anak dari Raja Dalem Solo Kerajaan Surakarta, yang tertarik dengan wangi pohon Taru Menyan, keempatnya tertarik ingin mengetahuai asal muasal wangi yang membuat mereka penasaran. Keempat bersaudara itu mereka adalah Putra Sulung Dalem Solo, Puta Kedua Dalem Solo, Putra Ketiga Dalem Solo, dan si Bungsu Putri Keempat. Singkat cerita si Putra Sulung menemukan satu buah Pohon yang semakin dia dekatin maka semakin menyengat wangi nya. Hingga ternyata pohon itu di lindungi oleh sang Dewi yang sangat cantik hingga membuat sang Putra Sulung terpesona akan kecantikannya. Namun sang kakak Dewi pun memberi syarat kepada Putra Sulung jika ingin menikahi sang Dewi, dia harus tinggal disini dan memimpin desa ini. Semua syarat pun di setujui, lalu Putra Sulung Dalem Solo diberi gelar Raja Sakti Pancering Jagat yang pada saat itu menjadi raja pertama dan awal mula keberadaan Desa Trunyan. Dan sedangkan sang Dewi bergelar Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar.

Singkat cerita kerajaan kecil yang di pimpin Putra Sulung kini menjadi sangat makmur dan berkembang tidak ada rakyat yang menderita, sehingga dia merasa bahwa wangi pohon Taru Menyan ini yang wanginya tercium sampai ke Jawa akan mengancam kemakmuran kerajaannya. Sampai akhirnya sang Raja memutuskan untuk menaru jenazah rakyat yang sudah meninggal di taru di bawah pohon dan di biarkan membasuh di bawah udara terbuka dilakukan agar wangi pohon tidak terendus sehingga kerajaanpun aman dari musuh.

Sampai saat ini kebiasaan itupun masih dilakukan sampai sekarang, dan percaya atau tidak lagenda itu benar adanya. Dan terbukti sampai sekarang tidak pernah tercium bau busuk sedikitpun meski sudah ratusan bahkan ribuan jenazah yang tergeletak di bawah Pohon Taru Menyan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.