Kisah Sumanto; Menjadi Kanibal untuk Kekuatan Mistik

Kisah Sumanto; Menjadi Kanibal untuk Kekuatan Mistik

Sumanto lahir di Pelumutan, 3 Maret 1972 merupakan seorang pria biasa seperti umumnya. Namun awal tahun 2003 namanya dikenal masyarakat Indonesia secara luas. Bukan karena prestasi atau hal positif yang dibuatnya, namun dia terlibat kasus pencurian mayat hingga kanibalisme.

Anak sulung dari lima bersaudara ini lahir dari pasangan Nuryadikarta dan Samen. Masa kecilnya berkecukupan karena warisan yang diterima ayahnya dari sang kakek dan neneknya.

Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Pelumutan 1. Sejak kecil teman-teman mainnya dan tetangga memanggil dia dengan nama Suman, singkatan dari Sumanto. Sejak kecil Sumanto memang sudah mulai terlihat bandel.

Niatnya melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Kemangkon terhalang karena nilai NEM yang didapatnya tidak mencukupi. Akhirnya ia mengulang kelas 6 di SDN 2 Pelumutan dan lulus setahun kemudian.

Baca juga: Suku Asmat dan 3 Suku Kanibal yang Tersisa di Dunia

Awalnya Sumanto bisa bersekolah hingga kelas 3 SMP. Namun menjelang lulus keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Tidak sedikit barang yang dijual keluarganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumanto dewasa memiliki dua mantan istri. Istri pertamanya bernama Sutrimah yang ia temui saat bekerja di Lampung. Pernikahan itu tidak berjalan lama karena terjadi KDRT.

Setahun setelah bercerai, ia memutuskan menikahi Tugiyem pada tahun 1993 dan dikaruniai seorang anak bernama Titis Wahyu Widianti. Setelah menikah, ia jarang pulang ke rumah. Pernikahan ini juga berakhir dengan perceraian sama seperti kasus dengan istri pertama.

Pria yang dijuluki sebagai kanibal asal Purbalingga ini awalnya mencuri mayat nenek Mbah Rinah, lalu memakan dagingnya. Ia mengaku sedang memperdalam ilmu di bawah bimbingan seorang guru.

Menurut pengakuannya, memakan daging manusia membuat dirinya kebal, tak terluka karena goresan senjata, dan mendapat ketenangan batin. Ajaran ini ia dapatkan ketika merantau ke Lampung tahun 1988 dan menuntut ilmu hitam.

Bahkan, menurut ajaran ilmu hitamnya, kalau ilmu itu bisa membangkitkan orang mati.

Sumanto diharuskan memakan tujuh daging manusia. Ia baru menjalani syarat itu dengan memakan beberapa jenasah dan keburu ditangkap.

Dalam persidangan, ia mengaku memakan tiga jasad baik itu di Lampung dan juga kampung halamannya.

“Rasanya mirip daging Babi” kata Sumanto.

Namun menurutnya lebih enak lagi daging anjing, tikus, atau kucing.

Demikian kisah kanibalisme Suamnto yang memakan daging manusia untuk menuntut ilmu hitam.
Semoga bermanfaat.

Baca juga: 4 Aksi Kanibal Terburuk di Dunia, Dua dari Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *