2 Fakta Ilmu Leak, Ilmu Mistis dari Pulau Dewata

2 Fakta Ilmu Leak, Ilmu Mistis dari Pulau Dewata

Selama ini Leak dianggap sebagai ilmu mistis berupa sosok yang mengerikan. Leak juga dinilai memiliki sifat yang menyakiti dan suka merusak. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Pada dasarnya leak atau ilmu apa pun bersifat netral, tergantung manusia yang menggunakannya.

Baca juga: 7 Pantangan Bagi Pengguna Ilmu Pelet Putih

Karena kekuatiran salah kaprah yang semakin berlarut, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar kemudian memberikan pemahaman tentang ilmu leak yang sebenar-benarnya. Bahkan perguruan tinggi asal Bali ini berencana untuk membuka program ilmu pengleakan.

Berikut 2 rangkuman penjelasan UNHI tentang ilmu leak.

Asal Mula dan Sifatnya

Menurut Dosen UNHI Denpasar dan praktisi lontar Bali, Prof.Dr.I Wayan Suka Yasa MS, sebenarnya ilmu apapun di dunia ini adalah netral. Justru orang-orang yang membuatnya terlihat baik atau buruk, positif atau negatif.

Mirip dengan pisau. Kalau sudah terbiasa memotong makanan, baru kita bisa makan. Sedangkan jika pisau digunakan untuk membunuh manusia, tentu akan terbentuk pandangan negatif.

Begitu juga ilmu Leak. Rwa Bhineda atau dua hal yang berbeda dan bertolak belakang tetapi tidak terpisahkan, akan selalu ada di dunia. Oleh karena itu, pemanfaatan ilmu yang telah dikuasai bergantung pada manusia itu sendiri. Ngeleak adalah ajaran Tantra Yoga yang berkembang sejak zaman kerajaan Kediri, kemudian dikisahkan dalam bentuk cerita Calonarang. Sampai saat ini ilmu kebocoran masih berkembang di Bali.

3 Jenis Ilmu Leak

Leak (Baca: Liak), menurut Suka Yasa, didasarkan pada lontar yang artinya Linggihang Aksara (Li-Ak). Linggih artinya duduk atau tempat. Sehingga Pengetahuan Leak (Liak) sebenarnya berarti menempatkan karakter sakral ke dalam tubuh manusia. Sekali lagi, sains itu netral.

Penggunaan Ilmu Leak jika dilihat dari sifatnya dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu satwika (baik), rajasika (ego dan ego) dan tamasika (emosi buruk). Menurut Suka Yasa, ada ribuan lontar yang terkait dengan evasiveness, baik dari segi filosofis, teknis, maupun sub-sains.

Pada dasarnya, dia menjelaskan ada tiga jenis ilmu leak . Yakni penengen, pengiwa, dan kamoksan. Ilmu penengen adalah ilmu yang diarahkan untuk kebaikan. Biasanya digunakan balian (dukun) untuk mengobati orang sakit, membuat relasi lepas kembali harmonis, dan kebaikan lainnya.

Sedangkan jenis pengiwa adalah ilmu yang bersifat merusak atau merusak dan menyakitkan. Justru jenis ilmu leak  inilah yang populer di Bali. Sehingga masyarakat memiliki pandangan negatif terhadap ilmu leak. Hal ini dimungkinkan karena manusia yang mendalami ilmu leak masih memiliki ego yang tinggi. Sehingga ilmunya digunakan untuk melampiaskan emosi, dendam, kebencian dan rasa iri. Psikologi ini adalah tamasika. “Pengiwa yang populer, yang destruktif, yaitu tamasika. Namun penghindaran bukan hanya itu. Tentu saja yang destruktif tidak akan berkembang di prodi ini. Cuma gambaran, bukan untuk dipraktekkan. Kita menelaah dari aspek keilmuan. Karena ilmu itu netral, “ujarnya.

Sedangkan aspek terakhir dalam ilmu leak yaitu kamoksan atau ilmu pelepasan. Moksa dalam agama Hindu merupakan tujuan akhir kehidupan, yaitu kebebasan dari ikatan duniawi dan siklus reinkarnasi kehidupan. Jadi ilmu leak terdiri dari ilmu kawiwesan (penengen pengiwa untuk duniawi), dan ilmu pelepasan (untuk lepas dari dunia). “Setelah ada di dunia, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita akan mati, tetapi cara mati itu benar adanya.

Nah, inilah ilmu khusus yang disebut ilmu kamoksan. Sehingga belajar ilmu bocor sempurna saat belajar sampai pada ilmu pelepasan. Kalau belajar hanya di jenjang kawisesan akan sulit lepas dari dunia, ”imbuhnya.

Itulah informasi tentang ilmu leak, ilmu yang berkembang dan dipelajari di Bali serta penjelasan lengkapnya.
Semoga bermanfaat.

Baca juga: Mengenal Ilmu Pelet, Ilmu untuk Memikat Lawan Jenis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.